Sebongkah Perasaan
Untuk apa perasaan di ciptakan?
untuk apa manusia memiliki perasaan kehilangan, perasaan memiliki, perasaan mencintai?
untuk apa Allah menciptakan sebongkah perasaan di hati manusia? Toh apabila pada akhirnya sebongkah itu menjadi duri dalam onak..menjadi duri dalam daging.
Maha Suci Allah..
menjadikan ada dan tiada...
menjadikan datang dan pergi...
menjadikan siang dan malam...
seimbang...
semuanya menjadi seimbang.
lantas, untuk apa bongkahan itu ada?
bongkahan yang bisa menjadi duri dalam daging, yang menjadi pengkhianat terbesar dalam tubuh. Bongkahan yang menjadi pembunuh paling dahsyat. Untuk apa ada itu?
Kalo pun semuanya serba seimbang,
apa yang menjadi penyeimbang dari bongkahan itu??
Aku masih bertanya..
bertanya dalam diam..
Kini.. aku pun memiliki bongkahan itu. Pada seseorang, yang tanpa ku sadari bongkahan itu menjadi bermekaran. Aku membiarkannya mekar. Tumbuh dan berkembang semakin kuat.
Bongkahan yang tak pernah ku sadari kapan itu muncul dan tumbuh menjalar.
namun, orang tersebut akan kembali ke tanah kelahirannya..
"Aku ingin membentuk peradaban di sana", katanya kala fajar itu...
hahahaha...aku hanya bisa menyunggingkan senyum.
"hhh... untuk apa harus ada kata pergi?", tanyaku padanya sore itu.
"perpisahan adalah awal dari perjumpaan yang lebih berarti", katanya.
"kalo tak ada yang pergi, maka tak pernah akan ada yang datang," jawabnya sambil bercanda.
"tapi kan, tak enak jika kita kehilangan orang yang sudah terbiasa berada di antara kita", namun ku urung mengucapkannya.
Perpisahan akan menyebabkan kehilangan. Keduanya merupakan hukum alam yang sudah pasti terjadi.
Tak ada yang enak jika kita ditinggalkan. Meskipun tak akan ada yang pergi dari hati dan takkan pernah ada yang hilang dari kenangan. aahh... tapi tetap saja itu menyakitkan.
untuk apa manusia memiliki perasaan kehilangan, perasaan memiliki, perasaan mencintai?
untuk apa Allah menciptakan sebongkah perasaan di hati manusia? Toh apabila pada akhirnya sebongkah itu menjadi duri dalam onak..menjadi duri dalam daging.
Maha Suci Allah..
menjadikan ada dan tiada...
menjadikan datang dan pergi...
menjadikan siang dan malam...
seimbang...
semuanya menjadi seimbang.
lantas, untuk apa bongkahan itu ada?
bongkahan yang bisa menjadi duri dalam daging, yang menjadi pengkhianat terbesar dalam tubuh. Bongkahan yang menjadi pembunuh paling dahsyat. Untuk apa ada itu?
Kalo pun semuanya serba seimbang,
apa yang menjadi penyeimbang dari bongkahan itu??
Aku masih bertanya..
bertanya dalam diam..
Kini.. aku pun memiliki bongkahan itu. Pada seseorang, yang tanpa ku sadari bongkahan itu menjadi bermekaran. Aku membiarkannya mekar. Tumbuh dan berkembang semakin kuat.
Bongkahan yang tak pernah ku sadari kapan itu muncul dan tumbuh menjalar.
namun, orang tersebut akan kembali ke tanah kelahirannya..
"Aku ingin membentuk peradaban di sana", katanya kala fajar itu...
hahahaha...aku hanya bisa menyunggingkan senyum.
"hhh... untuk apa harus ada kata pergi?", tanyaku padanya sore itu.
"perpisahan adalah awal dari perjumpaan yang lebih berarti", katanya.
"kalo tak ada yang pergi, maka tak pernah akan ada yang datang," jawabnya sambil bercanda.
"tapi kan, tak enak jika kita kehilangan orang yang sudah terbiasa berada di antara kita", namun ku urung mengucapkannya.
Perpisahan akan menyebabkan kehilangan. Keduanya merupakan hukum alam yang sudah pasti terjadi.
Tak ada yang enak jika kita ditinggalkan. Meskipun tak akan ada yang pergi dari hati dan takkan pernah ada yang hilang dari kenangan. aahh... tapi tetap saja itu menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar