Hujan Memanggul Rindu


Menjelang minggu ke-3, tepat di hari ke-19, hujan masih bergelayut di langit Jakarta. Rintiknya seakan enggan meninggalkan kota yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa ini. 
Pagi-pagi, hujan sudah mengakrabi jiwa-jiwa yang akan beraktivitas. Begitu pula dengan sosok perempuan bertubuh mungil itu. Hujan mengukungnya dengan kerinduan yang teramat sangat. Hujan itu pula yang menghalangi fajar, padahal dia menantinya untuk membentengi diri dari kukungan rindu yang menggebu.

Kebiasannya kumat.
Mematut diri di daun jendela sembari memandangi pelataran rumah dengan mata nanar.
Tatapannya kosong, pikirannya bermain seirama rintikan hujan yang menyapa.
"Mau sampai kapan aku begini", begitu senandungnya.
kalimat itu disampaikan dengan nada yang meliuk-liuk, jauh dari kata bernama irama. Tempo dan intonasi pun tidak jelas. Naik turun dengan nada ke mana-mana.
Angin makin kencang berhembus, mengaburkan senandung perempuan itu.
Samar-samar ku dengar perempuan itu berbisik pelan,
"Mau sampai kapan aku berada dalam zona putih hitam. Membiarkan otak dan pikiran berubah menjadi devil yang terus bertumbuh kembang dalam raga ini. Menyiksa, mengiris, dan mencambuk organ tengah yang semakin teronggok tak berdaya. Tak peduli meski organ itu megap-megap tak punya kuasa."

Ekor mataku berusaha menangkap bayangannya.
Bayangannya menceritakan sebuah peristiwa kepadaku. Tentang seseorang yang pernah ia temui di kala senja.
Aku pun mafhum.
Ingin sekali ku bisikkan padanya,
"Pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada sesuatu di balik itu semua. Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Oleh karena itu, umat Islam disarankan untuk melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang agar nasibnya berubah. Namun sayang, tak semua dapat mengungkap rahasia itu, dan beruntunglah sedikit orang yang memahami maksud dari sebuah pertemuan. Percayalah, atas kasih-Nya, kalian dipertemukan. Kalau pun berpisah, maka itu pun atas kasih-Nya."

Hujan masih saja mengirimkan rintik-rintik rindu yang semakin mengukung perempuan itu.
Aku pun menyaksikannya menangis kala hujan memanggul rindu.

Komentar

Postingan Populer