PERANG PIKIRAN


 "Obliviate... Obliviate... Obliviate"

kata itu terus diucapkan berulang-ulang dengan menggoyangkan tongkat kayu ke kepalanya. Tapi ternyata gagal.
Tongkat kayu tak berhasil, dia kembali mencobanya dengan paralon, besi, dan palu.
"Obliavete.."
mantra itu pun kembali diucapkannya. sekali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali... sampai nafasnya tersengal-sengal tapi hasilnya masih tetap sama.
Mantra penghilang ingatan itu tak membuahkan hasil meski sudah diucapkan berulang-ulang.

Buliran air mata pun berjatuhan. Dia menyerah. Otaknya mendadak memberikan perintah untuk mengucapkan mantra Avada Kadavra. Pikiran mencerna. Susunan syaraf pun menerima rangsangan perintah itu. Secara perlahan,susunan syaraf menggerakkan tubuhnya.
Tapi dia masih tetap bergeming. Masih ingin berusaha menggunakan mantra yang pertama dan menolak mantra yang ditawarkan oleh otaknya sendiri.

"hhh... hhhh..."
Hembusan nafasnya terasa berat dan dia hanya terdiam saja.
Dalam tubuhnya yang lunglai, sesungguhny sedang terjadi peperangan yang hebat.

Pikiran, hati, dan perasaan sedang tak sejalan.. Ketiganya memiliki visi dan misi yang berbeda. Mengandalkan otak adalah sesuatu hal yang mustahil saat itu. Perasaan meraja, pikiran nelangsa, hati pun tak banyak bicara.
Dia pun semakin tersiksa.

Komentar

Postingan Populer