Mengintip(mu) Lagi
"Aaaiiiihh...sejak kapan aku punya hobi baru seperti ini. Mengintip(mu) menjadi hal yang menyenangkan meski menyiksa.
Diam-diam merindu.
Aaaahhh... Aku merindumu setahun yang lalu, sebulan yang lalu, seminggu kemarin"
***
Kala itu, hujan menyapa pelan. Melalui hujan, kita bercerita tentang kehidupan yang terasa rumit untuk kita terjemahkan.
Antara ingin dan mau, antara harapan dan cita, antara mimpi dan realita. Yeaahh.. semuanya tentang kehidupan. Untuk masa depan yang sama sekali sulit untuk kita genggam.
Pernah sore itu aku bertanya padamu, "Apakah cinta akan berjodoh dengan jodoh itu sendiri?"
dan jawabanmu, "Ya.. kita jadikan agar cinta dan jodoh menjadi berjodoh?"
"Bagaimana caranya?", tanyaku.
"Kita buat jembatan yang dapat menghubungkan antara cinta dan jodoh", jawabmu.
"hahahaa..." tawaku lepas.
Selalu, kau membuatku tertawa.
Aaaahh... Aku merindumu melalui lagu. Semuanya serba tentangmu. Juga tentang percakapan di sore itu.
***
Seminggu berselang. Apa kabarmu?? Aiihh.. lagi-lagi aku hanya mampu mendapatkan jawaban itu dari intipanku yang tanpa ku sadari ternyata ku melakukannya dengan cukup intens. Mengintip(mu) sekarang menjadi penyakit baru yang bersarang dalam otak dan jiwaku. Yeeeiiiyyy... Otak dan pikiranku memang telah lama bercerai. Tapi entah kenapa, untuk hobiku yang satu ini, mereka menjadi akur kembali.
Hujan sore itu, Ingiin sekali aku menahanmu. Menginginkanmu tetap ada di situ untuk setia mendengarkan ocehan-ocehanku. Yeaahh.. lagi-lagi ocehanku tentang kehidupan. Padahal, kamulah yang sering mengoceh. Aahhh.. ternyata aku juga merindukan ocehanmu.
Jarum panjang sore itu tak mau berhenti bergerak. Padahal aku ingin sekali menghentikannya agar aku bisa kembali berlama denganmu. Ternyata jarum panjang itu memberontak. Pegerakannya sangat kuat. Seakan dia meledekku,
"Rasakanlah. Kini saatnya telah tiba. Ujung jarumku akan segera sampai pada angka 2.30 siang, haahaa..."
hhhh.. Jarum panjang itu mentertawakanku. Aku pun menyerah. Usahaku untuk menahanmu sore itu sia-sia karena ternyata waktu tak bisa berhenti.
Benar ternyata. Sore itu tiba. Angka yang menunjukkan kepergianmu di sore itu. Lagi-lagi menjelang senja.
dan aku tak bisa menahanmu lebih lama.
***
Apa kabar organku? Kau yang terdiam di sana, masih menderitakah? Otak dan jiwaku terus menyiksamu, Baik-baik sajakah di sana? Kau teronggok di bagian tengah tubuhku, semoga bisa bertahan dengan semua kehidupan yang terkadang aku sendiri pun sulit untuk menerjemahkannya. Aku hanya bisa mengobatimu dengan hobi baruku ini.
yeaaahhh... mengintip(mu) lagi dengan diam-diam.
Komentar
Posting Komentar