OBLIVIATE
Suatu senja, di sudut kota, beberapa menit sebelum menjelang maghrib, rinai hujan memeluk erat Jakarta. Awan bergelayut manja nan menggoda disertai gemuruh halus yang saling bersahutan. Di balik gedung biru, terlihat seorang perempuan berparas manis, menawan nan mempesona sedang melihat hujan, mengamati dan mengaguminya.
Selalu ada yang menarik setiap kali hujan turun.
Hujan terjadi karena kerinduan laut kepada gunung. Laut yang tak kuasa memanggul rindu, menyampaikannya kepada awan, menitipkan salam serta berharap dapat segera bertemu dengan kekasih yang sangat ia rindu. Hanya itu yang dapat Laut lakukan. Angin yang mengetahuinya pun iba. Dia membantu awan untuk segera menyampaikan salam rindu itu kepada gunung. Gunung bersuka cita dan membagi kebahagiannya dengan daratan. Sehingga turunlah hujan. hahaha..
yeah.. itu teoriku tentang hujan yang kuterjemahkan dari buku-buku pengetahuan. :P
Perempuan itu terus memandang, menghayati, dan meresapi setiap rinai hujan yang turun. Rintiknya menyenandungkan sebuah melodi yang membawanya kembali ke masa lalu.
Setahun silam, perempuan itu mulai memperhatikan sang lelaki.
"Hai" Sapa lelaki pada dirinya.
Sapa ramah yang terucap langsung terekam ke dalam memory jangka panjang. Otak pun serta merta merangsang susunan syaraf yang langsung mengirimnya ke organ tengah manusia. Hingga cerita pun terjalin, terajut, dan terenda dalam sebuah kata bernama kasih. Mimpi, angan, asa, dan cita pun segera membentuk lazuardi kehidupan.
Gemuruh halus kembali terdengar. Perempuan itu pun segera tersadar dari lamunannya.
Bumi ini, langit yang sama dan hujan yang sama, tetapi selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Perempuan itu menengadah, sesenggukan, dan tersenyum seraya berucap,
"Terima kasih, Tuhan"
Malam itu, perempuan memusatkan seluruh pikirannya. Menyadari mimpi yang tak mungkin tergapai. Mimpi yang terlanjur terajut. Siang yang mengimajinasi tentang sapa, senyum, dan salam dari sang lelaki. Akan tetapi, malam menelannya tanpa sisa.
Malam itu, ingin sekali perempuan membisikkan kata-kata lembut untuk sang lelaki.
"Cinta akan membuktikan kekuatannya kalau cinta itu ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk kamu, aku, atau kalian. Cinta itu memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-pelajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya..
Sang pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta, melainkan memberikan apa yang manusia butuhkan."
Believe that!!
OBLIVIATE...
Berharap, mantra itu akan benar-benar ampuh untuk dirinya sendiri...
==> Hermione, pinjam tongkat sihirmu!! hahaha...
(meski dari dasar hatinya tidak ingin menghilangkan sebagian ingatannya)
pada 23 November 2010 jam 19:08
Komentar
Posting Komentar